Laman

Kamis, 09 Januari 2014

JENIS-JENIS PUISI

1)      Puisi Naratif, yaitu puisi yang di dalamnya mengandung suatu cerita, dengan pelaku, perwatakan, setting, maupun rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Contoh:
Aku adalah apa yang kupilih
Aku teringat adagium ‘aku adalah yang aku makan’atau ‘aku menjadi apa yang kupikirkan’
yang sebenarnya aku memilih yang kumakan dan kupikir maka aku lebih menyukai perkataanku ini ‘aku adalah apa yang kupilih’
Aku teringat betul kala itu kutonton ‘little house on the prairie’ bukannya ‘si unyil’
kubaca ‘hello’ bukannya ‘hai’ dan sekarang aku tahu aku telah jauh hari memilih hidupku.
Aku pun teringat,sangat kuingat, saat aku memutuskan pulang dari perantauanku mengadu nasib di Sumbawa, meski baru sebentar saja disana, malah belum sempat mengirimkan lamaran ke New Mount, karena sebelumnya, di kapal aku mendengar Iwan Fals menyanyikan lagu yang menantang pendirianku ‘selamat jalan kawan, semoga kau benar’ aku memilih pulang
Aku tak melupakan, tak akan lupa, seketika kakiku tiba di rumah, segera setelahnya aku terima jadwal mengajar, dan aku memilih menerimanya.
Aku teringat, masih teringat, haru biru perjuanganku memilih pendamping hidupku,
aku tak mungkin lupa, ketika aku memilih menyerahkan anak laki pertamaku, usia dua bulan, ke dokter-dokter bedah otak.
Aku masih ingat, masih terus ingat, doaku kepada Allah untuk mengijinkanku merawatnya kembali, apapun yang terjadi.
Aku teringat dan terus terus terus ingat aku telah memilih, aku mengakui bahwa aku memilih dan bukan berdiam, aku telah menjadi apa yang kupilih dan bukan menyerah menyalahkan takdir.
Aku teringat, tak mungkin lupa, yang kupilih
Melbourne, 20 April 2009
Puisi untuk Anak Lelakiku tersayang, Senthforth Faizulhub
Senin, 2009 April 20 21:12:00 BNT


2) Puisi Lirik, yaitu puisi yang berisi luapan batin individual penyairnya dengan segala macam endapan pengalaman, sikap, maupun suasana batin yang melingkupinya. Contoh:









 


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi





3 ) Puisi Dramatik, yaitu puisi yang secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog sehingga mengandung gambaran suatu kisah
tertentu. Contoh:
 


HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.




4) Puisi Satirik, yaitu puisi yang mengandung sindiran atau kritik tentang kepincangan atau  ketidakberesan kehidupan suatu kelompok maupun suatu masyarakat. Contoh:

 


AKU BERTANYA

Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidad penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

(W.S. Rendra)






5) Romance, yaitu puisi yang berisi luapan rasa cinta seseorang terhadap sang kekasih. Contoh:

 


Ingin Kulupakan Cinta
setelah hampa tinggallah ruang kosong di hati kembali                                                    kau hadir ketika lelap menyelimuti                                                                                harusnya kau sadar!                                                                                                         kaupun tak patut kembali walau hanya dalam mimpi!                                                             jalan setapak yang kita lalui dulu                                                                               hanyalah kepingan sampah kenangan yang seharusnya kubuang jauh dan pasti kubuang jauh                                                                                                         dan akupun harusnya sadar                                                                                    melupakanmu hanyalah memberikan sedikt goresan tipis di hati








6) Elegi, yaiu puisi ratapan yang mengungkapkan rasa pedih seseorang. Contoh:          
 


Senja di Pelabuhan Kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
(Chairil Anwar)





7) Ode, yaitu puisi yang berisi pujian terhadap seseorang yang memiliki jasa ataupun sikap kepahlawaanan. Contoh:

ODE
Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)


















8) Hymne, yaitu puisi yang berisi pujian kepada Tuhan maupun ungkapan rasa cinta
terhadap bangsa maupun tanah air. Contoh:

 


DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling




9) Puisi Epik, yaitu suatu suatu puisi yang di dalamnya mengandung cerita kepahlawanan, baik kepahlawan yang berhubungan dengan legenda, kepercayaan, maupun sejarah. Contoh:

 


DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api                                                                      Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.













10) Puisi Didaktik, yaitu puisi yang mengandung nilai-nilai kependidikan yang umumnya tertampil eksplisit. Contoh:

 


Sekolahku, mimpiku

Aku ingin menjadi astronot
Aku ingin menjadi pilot
Aku ingin membuat robot
Namun tubuh kecilku terperangkap diantara angkot-angkot

Kadang aku iri
Semua anak bisa sekolah
Sedangkan aku sendiri
Mengais rezeki tak kenal lelah 

Aku ingin belajar
Aku ingin pintar
Semangatku tak boleh gentar
Ya! Tak boleh gentar

Akan ku hadapi semua rintangan
Demi sekolah yang ku impikan
Suatu saat akan aku buktikan
Aku juga mempunyai masa depan

TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA MASA AKSARA


Kepulauan Indonesia, pada zaman kuno terletak pada jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan kuno, yaitu India dan Cina. Letaknya dalam jalur perdagangan internasional ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada perkembangan sejarah kuno Indonesia. Kehadiran orang India di kepulauan Indonesia memberikan pengaruh yang sangat besar pada perkembangan di berbagai bidang di wilayah Indonesia.
Hal itu terjadi melalui proses akulturasi kebudayaan, yaitu proses percampuran antara unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain sehingga terbentuk kebudayaan yang baru tanpa menghilangkan sama sekali masing-masing ciri khas dari kebudayaan lama.
Pengaruh India yang masuk ke Indonesia antara lain terlihat dalam bidang:
1. Budaya
Pengaruh budaya India di Indonesia sangat besar bahkan begitu mudah diterima di Indonesia hal ini dikarenakan unsur-unsur budaya tersebut telah ada dalam kebudayaan asli bangsa Indonesia, sehingga hal-hal baru yang mereka bawa mudah diserap dan dijadikan pelengkap.
Pengaruh kebudayaan India dalam kebudayaan Indonesia tampak pada:
  • Seni Bangunan
Akulturasi dalam seni bangunan tampak pada bentuk bangunan candi.
Di India, candi merupakan kuil untuk memuja para dewa dengan bentuk stupa.
Di Indonesia, candi selain sebagai tempat pemujaan, juga berfungsi sebagai makam raja atau untuk tempat menyimpan abu jenazah sang raja yang telah meninggal. Candi sebagai tanda penghormatan masyarakat kerajaan tersebut terhadap sang raja.
Contohnya:
Ø      Candi Kidal (di Malang), merupakan tempat Anusapati di perabukan.
Ø      Candi Jago (di Malang), merupakan tempat Wisnuwardhana di perabukan.
Ø      Candi Singosari (di Malang) merupakan tempat Kertanegara diperabukan.
Di atas makam sang raja biasanya didirikan patung raja yang mirip (merupakan perwujudan) dengan dewa yang dipujanya. Hal ini sebagai perpaduaan antara fungsi candi di India dan tradisi pemakaman dan pemujaan roh nenek moyang di Indonesia. Sehingga, bentuk bangunan candi di Indonesia pada umumnya adalah punden berundak, yaitu bangunan tempat pemujaan roh nenek moyang.
Contoh ini dapat dilihat pada bangunan candi Borobudur.
  • Seni rupa, dan seni ukir.
Akulturasi dalam bidang seni rupa, dan seni ukir terlihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding candi.
Sebagai contoh: relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur bukan hanya menggambarkan riwayat sang budha tetapi juga terdapat relief yang menggambarkan lingkungan alam Indonesia. Terdapat pula relief yang menggambarkan bentuk perahu bercadik yang menggambarkan kegiatan nenek moyang bangsa Indonesia pada masa itu.
  • Seni Hias
Unsur-unsur India tampak pada hiasan-hiasan yang ada di Indonesia meskipun dapat dikatakan secara keseluruhan hiasan tersebut merupakan hiasan khas Indonesia.
Contoh hiasan : gelang, cincin, manik-manik.
  • Aksara/tulisan
Berdasarkan bukti-bukti tertulis yang terdapat pada prasasti-prasasti(abad 5 M) tampak bahwa bangsa Indonesia telah mengenal huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Huruf Pallawa yang telah di-Indonesiakan dikenal dengan nama huruf Kawi. Sejak prasasti Dinoyo (760 M) maka huruf Kawi ini menjadi huruf yang dipakai di Indonesia dan bahasa Sansekerta tidak dipakai lagi dalam prasasti tetapi yang dipakai bahasa Kawi.Prasasti Dinoyo berhubungan erat dengan Candi Badut yang ada di Malang.
  • Kesusastraan
Setelah kebudayaan tulis seni sastrapun mulai berkembang dengan pesat.
Seni sastra berbentuk prosa dan tembang (puisi). Tembang jawa kuno umumnya disebut kakawin. Irama kakawin didasarkan pada irama dari India.
Berdasarkan isinya, kesusastraan tersebut terdiri atas kitab keagamaan (tutur/pitutur), kitab hukum, kitab wiracarita (kepahlawanan) serta kitab cerita lainnya yang bertutur mengenai masalah keagamaan atau kesusilaan serta uraian sejarah, seperti Negarakertagama.
Bentuk wiracarita ternyata sangat terkenal di Indonesia, terutama kisah Ramayana dan Mahabarata. Kisah India itu kemudian digubah oleh para pujangga Indonesia, seperti Baratayudha yang digubah oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh. Berkembangnya karya sastra, terutama yang bersumber dari kisah Mahabarata dan Ramayana, telah melahirkan seni pertunjukan wayang kulit(wayang purwa).
Pertunjukkan wayang banyak mengandung nilai yang bersifat mendidik. Cerita dalam pertunjukkan wayang berasal dari India, tetapi wayangnya sendiri asli Indonesia. Bahkan muncul pula tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia seperti tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Tokoh-tokoh ini tidak ditemukan di India.
2. Pemerintahan
Sebelum kedatangan bangsa India, bangsa Indonesia telah mengenal sistem pemerintahan tetapi masih secara sederhana yaitu semacam pemerintahan di suatu desa atau daerah tertentu dimana rakyat mengangkat seorang pemimpin atau kepala suku. Orang yang dipilih sebagai pemimpin biasanya adalah orang yang senior, arif, berwibawa, dapat membimbing serta memiliki kelebihan tertentu , termasuk dalam bidang ekonomi maupun dalam hal kekuatan gaib atau kesaktian.
Masuknya pengaruh India menyebabkan muncul sistem pemerintahan yang berbentuk kerajaan, yang diperintah oleh seorang raja secara turun-temurun. Peran raja di Indonesia berbeda dengan di India dimana raja memerintah dengan kekuasaan mutlak untuk menentukan segalanya. Di Indonesia, raja memerintah atas nama desa-desa dan daerah-daerah. Raja bertindak ke luar sebagai wakil rakyat yang mendapat wewenang penuh. Sedangkan ke dalam, raja sebagai lambang nenek moyang yang didewakan.
3. Sosial
Kehidupan sosial masyarakat di Indonesia mengikuti perkembangan zaman yang ada. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia menerima dengan terbuka unsur-unsur yang datang dari luar, tetapi perkembangannya selalu disesuaikan dengan tradisi bangsa Indonesia sendiri.
Masuknya pengaruh India di Indonesia menyebabkan mulai adanya penerapan hukuman terhadap para pelanggar peraturan atau undang-undang juga diberlakukan. Hukum dan Peraturan menunjukkan bahwa suatu masyarakat itu sudah teratur dan rapi. Kehidupan sosial masyarakat Indonesia juga tampak pada sistem gotong-royong.
Dalam perkembangannya kehidupan sosial masyarakat Indonesia distratifikasikan berdasarkan kasta dan kedudukan dalam masyarakat (mulai mengenal sistem kasta)
4. Kepercayaan
Sebelum pengaruh India berkembang di Indonesia, masyarakat telah mengenal dan memiliki kepercayaan, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda besar (animisme dan dinamisme).
Ketika agama dan kebudayaan Hindu-Budha tumbuh dan berkembang, bangsa Indonesia mulai menganut agama Hindu-Budha meskipun unsur kepercayaan asli tetap hidup sehingga kepercayaan agama Hindu-Budha bercampur dengan unsur penyembahan roh nenek moyang. Hal ini tampak pada fungsi candi di Indonesia.
REKAMAN TERTULIS dalam TRADISI SEJARAH
Zaman sejarah di Indonesia diawali sejak abad ke-5 M setelah masuknya pengaruh India (Hindu-Budha). Mengenal tulisan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi sebuah bangsa. Hal ini dikarenakan dengan tulisan mereka dapat mencatat berbagai peristiwa yang terjadi pada masanya sehingga dapat menyebarkan dan mewariskan berbagai macam tradisi, nilai, kepercayaan, dan budayanya kepada masyarakat di sekitarnya maupun generasi penerus. Bukti-bukti tertulis yang ditinggalkan sehingga dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi selanjutnya, sehingga mereka dapat memahami dan menafsirkan kehidupan generasi terdahulu dan memperkuat akar dan jati diri masyarakat yang bersangkutan. Di antara bukti-bukti tertulis itu terdapat prasasti, kitab-kitab agama, karya-karya sastra dan sebagainya.
1. PRASASTI
Prasasti adalah peninggalan tertulis yang dipahatkan dan dilukiskan pada bahan yang tidak mudah musnah, seperti batu, logam, dan gading.
Pada umumnya prasasti menuliskan suatu peristiwa yang cukup penting pada masa lampau. Prasasti biasanya dibuat atas perintah raja yang berkuasa.
Tujuan pembuatan prasasti adalah untuk mengabadikan suatu peristiwa penting yang dialami oleh seorang raja atau sebuah kerajaan.
Contoh prasasti pada awal perkembangan kebudayaan Hindu-Budha.
a. Prasasti Kutai di Kalimantan Timur
Prasasti berupa tujuh buah yupa(tugu batu) yang diperkirakan berasal dari tahun 400 M, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Sansekerta.
Isinya, peringatan upacara kurban agama Hindu yang diperintahkan oleh Raja Mulawarman, Putra Aswawarman, dan cucu Kudungga.
b. Prasasti Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat
Prasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta.
Contohnya: Prasasti Ciaruteun (pahatan telapak kaki dan tulisan), Prasasti Kebon Kopi (pahatan telapak kaki gajah dan tulisan), Prasasti Jambu (pujian terhadap Purnawarman), Prasasti Pasir Awi (memuat syair pujian terhadap Raja Purnawarman), Prasasti Tugu (berita tentang penggalian saluran Sungai Gomati), Prasasti Muara Cianten, Prasasti Cidang Hiang.
c. Prasasti Kerajaan Sriwijaya
Prasasti ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno.
Contohnya: Prasasti Kedukan Bukit (Dapunta Hyang menaklukkan beberapa daerah), Prasasti Talang tuo (perintah Dapunta Hyang Sri Jayanaga untuk kemakmuran semua makhluk), Prasasti Telaga Batu (berisi kutukan kepada siapa saja yang tidak setia pada raja), Prasasti Kota Kapur (berisi permohonan kepada dewa untuk menjaga Sriwijaya dan menghukum para penghianat Sriwijaya).
d. Prasasti Kerajaan Mataram Kuno
Prasasti Canggal (654 Saka/732 M), menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, mengenai pendirian sebuah lingga atas perintah Raja Sanjaya di atas bukit Kunjarakunja.
Prasasti Matyasih (prasasti Kedu) (829 Saka/907 M), berisi tentang raja-raja yang memerintah sebelum Dyah Balitung.
Prasasti Ritihang, berbahasa Jawa Kuno ditulis dengan huruf Pallawa berangka tahun 863 Saka/ 914 M.
e. Prasasti Kerajaan Syailendra
Prasasti Kalasan, berangka tahun 700 Saka (778 M), berbahasa Sansekerta, dan ditulis dengan huruf Pra-Nagari.
Prasasti Klurak (dekat Prambanan), berangka tahun 704 Saka (782 M), ditulis dengan bahasa Sansekerta dan huruf Pra-Nagari. Mengenai pembuatan arca Manjusri.
2. KITAB
Kitab merupakan sebuah karya sastra para pujangga pada masa lampau yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengungkap suatu peristiwa di masa lampau. Para pujangga biasanya menulis atas perintah raja. Itulah sebabnya isi tulisannya banyak menulis keagungan dan kebesaran raja yang bersangkutan. Diantara kitab-kitab yang terkenal pada masa kerajaan Hindu-Budha:
1.) Pada zaman Kediri dihasilkan kitab:
  • Arjunawiwaha
Merupakan karya Mpu Kanwa pada tahun 1030 M, pada masa pemerintahan Airlangga.
Isinya meriwayatkan Arjuna yang bertapa untuk mendapatkan senjata guna keperluan perang melawan Kurawa.
  • Kresnayana
Karya Mpu Triguna. Memuat riwayat Kresna semasa kecil. Cerita yang mirip dengan Kresnayana adalah cerita dalam kitab Hariwangsa karya Mpu Panuluh, yang digubah pada zaman Raja Jayabaya, dan berisi kisah perkawinan Kresna dengan Dewi Rukhimi.
  • Smaradahana
Karya Mpu Dharmaja pada masa Sri Kameswara. Mengisahkan hilangnya suami istri Dewa Kama dan Dewi Ratih karena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa.
  • Baratayudha
Karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Isinya tentang peperangan 18 hari antara keluarga Pandawa dan Kurawa.
  • Gatotkacasraya
Karangan Mpu Panuluh, menceritakan perkawinan Abimanyu, putra Arjuna, dengan Siti Sundhari atas bantuan Gatotkaca, putra Bima.Ditulis pada zaman Raja Jayabaya.
2) Pada zaman Majapahit I
  • Nagarakretagama
Ditulis pada zaman pemerintahan Hayam Wuruk oleh Mpu Prapanca. Mengenai kerajaan Singasari dari masa pemerintahan Ken Arok, raja pertama Singosari hingga Hayam Wuruk.
  • Sutasoma
Karangan Mpu Tantular. Menceritakan Sutasoma, putra raja yang kemudian mendalami agama Budha. Dalam kitab ini terdapat kata Bhinneka tunggal ika,tan hana dharma mangrwa. Kata bhinneka tunggal ika inilah yang kemudian menjadi semboyan persatuan kita.
  • Arjunawijaya
Karangan Mpu Tantular. Kitab mengisahkan raja Arjuna Sasrabahu dan Patih Sumantri melawan Raksasa Rahwana.
  • Kutaramanawa
Ditulis oleh Gajah Mada. Disusun berdasarkan kitab hukum Kutarasastra dan kitab hukum Munawasastra, dan kemudian disesuaikan dengan hukum adat pada waktu itu.
3) Pada zaman Majapahit II
  • Pararaton
Pararaton berisi dongeng dan mitos. Pengarangnya sampai sekarang belum diketahui. Terdiri atas 2 bagian. Bagian pertama berisi riwayat Ken Arok sampai raja-raja Sigasari. Bagian kedua mengisahkan Kerajaan Majapahit mulai dari Raden Wijaya, Jayanegara, pemberontakan Ronggolawe dan Sora, Perang Bubad, dan daftar raja sesudah Hayam Wuruk.
  • Tantu Panggelaran
  • Calon Arang
  • Sundayana
  • Paman Canggah
  • Usana Bali
  • Cerita Parahiyangan
  • Bubhuksah dan Gagang Aking
Pada masa Islam muncul banyak karya sastra seperti:
Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Sri Rama, Hikayat Maharaja Rahwana, Hikayat Pancatantra.
Selain kitab ada pula cerita panji seperti:
Syair Ken Tambunan, Lelakon Mahesa Kuitir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekal Wenengpati, Hikayat Panji Wilakusuma.
Selain itu terdapat pula kitab suluk (kitab yang bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian) seperti:
o       Suluk Sukrasa, menceritakan Ki Sukrasa yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan.
o       Suluk Wujil, berisi wejanagan Sunan Bonang kepada Wujil, bekas abdi Raja Majapahit.
o       Suluk Malang Sumirang, berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan YME.
Kitab yang ditulis oleh para pujangga dari kerajaan Islam di Indonesia diantaranya:
a)     Kitab Bustanu’Issalatin, ditulis oleh Nuruddin ar-Raniri dari Aceh.Berisi mengenai adat-istiadat Aceh dan ajaran agama Islam
b)     Kitab Sastra Gending, ditulis oleh Sultan Agung dari Mataram. Berisi tentang ajaran-ajaran filsafat. Serta kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang bersumber pada kitab Ramayana. Berisi tentang tabiat baik.
c)      Kitab Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi’e oleh Amanna Gappa dari Makasar. Berisi tentang hukum-hukum perniagaan bagi kerajaan Makasar.
3.  Dokumen
Dokumen adalah surat berharga yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan. Dokumen-dokumen tersebut harus didokumentasikan.
Sedangkan Dokumentasi itu sendiri adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dari berbagai bidang. Dapat berupa pengumpulan bukti-bukti atau keterangan seperti gambar, kutipan, guntingan koran, bahan referensi, dsb.
Dokumen merupakan sesuatu yang sangat berharga baik itu bagi pemakainya maupun pembuatnya.


Pidato tentang Cerita Rakyat Lombok dan Sumbawa sebagai Media Mendidik dari Genarasi ke Generasi

Assalamau’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua
Bapak ibu guru penguji yang saya hormati serta teman-teman seperjuangan yang saya banggakan.
Pertama- tama marilah kita panjatkan puji sukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan berkah dan rahmatnyalah kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat sehingga kita bisa melaksanakan ujian praktek hari ini. Izinkanlah saya saya untuk menyampaikan pidato yang bertema “Cerita Rakyat Lombok dan Sumbawa sebagai Media Mendidik dari Genarasi ke Generasi”
Seiring  dengan perkembangan jaman yang semakin terbuka dalam mengakses informasi, termasuk akses untuk memperoleh informasi dari berbagai budaya luar negeri, sehingga berpengaruh pada semakin memudarnya semangat untuk melestarikan budaya daerah kita sendiri, khususnya cerita rakyat.
Cerita tentang berbagai budaya  asing mudah sekali masuk ke negara kita melalui media,baik media elektronik maupun media cetak, terlebih dengan semakin berkembangnya teknonolgi informasi sehingga anak-anak jaman sekarang lebih tertarik membaca cerita-cerita seperti Harry Potter, Twilight, Cinderella, dan sebagainya daripada cerita rakyat dari daerah kita sendiri, seperti Putri Mandalika, Cupak Gerantang, Batu Pampang,  dan sebagainya.
Bapak ibu guru penguji dan teman-teman sekalian, pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang cerita rakyat dari daerah Lombok, yaitu Cupak Gerantang. Cupak Gerantang adalah cerita rakyat yang biasanya ditampilkan pada teater rakyat tradisional khas Lombok yang sederhana. Lakon ini biasanya dipentaskan pada acara-acara perayaan sperti acara pernikahan ataupun pada festival seni budaya.
Cerita ini menceritakan tentang dua tokoh kakak beradik yaitu Cupak dan Gerantang yang berkelana di hutan belantara untuk  mendapatkan keberuntungan namun terjadi pengkhianatan terhadap saudaranya sendiri yaitu Cupak yang menghianati adiknya, Gerantang. Kakakter Cupak mencerminkan semua sifat yang buruk pada diri manusia, ia rakus, dengki, seringkali berkhianat bahkan suka mencuri. Karakternya pun digambarkan dalam penampilan dimana ia berwajah buruk rupa, berbadan tambun, dan gerak geriknya mencerminkan sifat culas. Sedangkan karakter Gerantang sang adik, memncerminkan sifat-sifat yang baik yaitu rendah hati, jujur, berbudi pekerti baik, dan tutur katanya pun sopan. karakternya digambarkan sebagai pemuda yang tampan, bertubuh bagai kesatria tegap namun luwes, gagah dan gerak-geriknya halus.
Sang kakak Cupak sering mencurangi bahkan berusaha membunuh sang adik Gerantang. Namun Gerantang adalah seorang yang pemaaf dan tak pernah menyimpan dendam pada kakaknya. Hubungan di antara keduanya memang dimaksudkan untuk menggambarkan dua sifat pada manusia, baik dan buruk yang terus mengalami pertentangan. Namun sebagai cerita rakyat yang mendidik, Lakon ini selalu diakhiri dengan menangnya sifat baik yang ada dalam diri manusia.          
Cerita Cupak Gerantang ini pada awalnya adalah sebuah cerita rakyat yang sering ditampilkan dalam bentuk seni tari topeng yang lama-kelamaan dikembangkan menjadi lakon teater tradisional, dengan tujuan menjadi media pendidikan yang dapat dicerna masyarakat sehingga penuh dengan makna dan ajaran positif yang terkandung didalamnya.
Bapak ibu guru penguji serta teman-teman seperjuangan.
Kini Negeri ini penuh dengan rumah mewah yang telah menelan rumah-rumah tradisional. Anak bangsa jaman sekarang telah memiliki fasilitas-fasilitas yang mereka inginkan tetapi sifat baik seperti yang dimiliki Gerantang kini susah ditemukan. Negeri ini penuh dengan Cupak karena Gerantang masih terus bersembunyi, entah apa yang ditunggu.
Ketika semua orang ingin menjadi pemimpin setelah itu pemimpinnya tak banyak melihat kebawah, rakyat hanya memaki dengan suara yang tak terdengar karena orang yang dipercaya untuk menyampaikan aspirasi hanya tukang berkelahi, ataupun preman yang terbiasa hidup di terminal-terminal. Dan kini semakin banyak orang yang memiliki sifat seperti Cupak.
Bapak ibu guru penguji dan teman-teman yang saya sayangi,
Mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan. kurang lebihnya mohon dimaafkan.
Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi.



Essai dan Kritik Sastra

A. Pengertian Kritik dan Esai Sastra
kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya
Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai informal mempergunakan bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan “saya” dan seolah-olah ia berbicara langsung dengan pembacanya. Adapun esai yang formal pendekatannya serius. Pengarang mempergunakan semua persyaratan penulisan.
Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.
Apa yang membedakan esai dan bukan esai? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan dengan merujuk pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada, tetapi pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering kali masih tidak lengkap dan kadang bertolak belakang sehingga masih mengandung kekurangan juga. Misal mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang, dan dapat dibaca sekali duduk; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian (sastra, budaya, filsafat, ilmu); dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur.
Dari pembagian model penalaran ini, esai cenderung lebih mengamalkan penalaran lateral karena esai cenderung tidak analitis dan acak, melainkan dapat melompat-lompat dan provokatif. Sebab, esai menurut makna asal katanya adalah sebuah upaya atau percobaan yang tidak harus menjawab suatu persoalan secara final, tetapi lebih ingin merangsang. Menurut Francis Bacon, esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.
·         prinsip dalam menyusun kritik dan esai, di antaranya sebagai berikut
·         Pokok persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas dan hasil ulasannya harus memberikan keterangan atau memperlihatkan sebab musabab yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang nyata. Jadi yang terpenting bukan apa yang diulas, tetapi bagaimana cara penulis memberikan ulasannya.
·         Pendekatan yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan pendekatan faktual atau imajinatif? Pendekatan faktual maksudnya mendekati pokok persoalan berdasarkan fakta dan datanya sebagaimana diserap pancaindra. Pendekatan imajinatif maksudnya mendekati pokok persoalan berdasarkan apa yang dibayangkan atau diangankan.
·         Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang nyata dan objektif. Penulis tidak bleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya. Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
·         Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
·         beberapa fungsi kritik sastra adalah sebagai berikut.
·         Membina dan mengembangkan sastra. Melalui kritik sastra, kritikus berusaha menunjukkan struktur sebuah karya sastra, memberikan penilaian, menunjukkan kekuatan dan kelemahannya, serta memberikan alternatif untuk pengembangan karya sastra tersebut.
·         Pembinaan apresiasi sastra. Para kritikus berusaha membantu para peminat karya sastra memahami sebuah karya sastra. Kritikus berusaha mengungkap daerah-daerah yang lemah yang terdapat dalam karya sastra. Analisis struktur sastra, kmentar dan interprestasi, menjelaskan unsur-unsurnya,serta menunjukan unsur-unsur yang tersirat dan tersurat, akan dapat menuingkatkan apresiasi sastra.
·         Menunjang dan mengembangkan ilmu sastra. Kritik sastra merupakan wadah analisis karya sastra, analisis struktur cerita, gaya bahasa, dan teknik penceritaan. Hal ini merupakan sumbangan pula untuk para ahli sastra dalam mengembangkan teri sastra. Para pengarang pun dapat belajar melalui kritik sastra dalam memperluas pandangannya, sehingga ciptaannya lebih berkembang. Untuk membuat kritik dan esai terhadap karya sastra, penulis dapat menggunakan dua pendekatan yakni dengan pendekatan deduktif dan pendekatan induktif.
C. Tipe-tipe Esai
Ada enam tipe esai, yaitu:
·         Esai deskriptif. Esai jenis ini dapat meluliskan subjek atau objek apa saja yang dapat menarik perhatian pengarang. Ia bisa mendeskripsikan sebuah rumah, sepatu, tempat rekreasi dan sebagainya.
·         Esai tajuk. Esai jenis ini dapat dilihat dalam surat kabar dan majalah. Esai ini mempunyai satu fungsi khusus, yaitu menggambarkan pandangan dan sikap surat kabar/majalah tersebut terhadap satu topik dan isyu dalam masyarakat. Dengan Esai tajuk, surat kabar tersebut membentuk opini pembaca. Tajuk surat kabar tidak perlu disertai dengan nama penulis.
·         Esai cukilan watak. Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. Lewat cukilan watak itu pembaca dapat mengetahui sikap penulis terhadap tipe pribadi yang dibeberkan. Disini penulis tidak menuliskan biografi. Ia hanya memilih bagian-bagian yang utama dari kehidupan dan watak pribadi tersebut.
·         Esai pribadi, hampir sama dengan esai cukilan watak. Akan tetapi . Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. i. Penulis akan menyatakan “Saya adalah saya. Saya akan menceritakan kepada saudara hidup saya dan pandangan saya tentang hidup”. Ia membuka tabir tentang dirinya sendiri.
·         Esai reflektif. Esai reflektif ditulis secara formal dengan nada serius. Penulis mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati beberapa topik yang penting berhubungan dengan hidup, misalnya kematian, politik, pendidikan, dan hakikat manusiawi. Esai ini ditujukan kepada para cendekiawan.
·         Esai kritik. Esai reflektif ditulis secara formal dengan nada serius. Penulis mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati beberapa topik yang penting berhubungan dengan hidup, misalnya kematian, politik, pendidikan, dan hakikat manusiawiBerbentuk prosa, artinya dalam bentuk komunikasi biasa, menghindarkan penggunaan bahasa dan ungkapan figuratif.
·         Singkat, maksudnya dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua jam.
·         Memiliki gaya pembeda. Seorang penulis esai yang baik akan membawa ciri dan gaya yang khas, yang membedakan tulisannya dengan gaya penulis lain.
·         Selalu tidak utuh, artinya penulis memilih segi-segi yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak ditulis. Penulis memilih aspek tertentu saja untuk disampaikan kepada para pembaca.
·         Memenuhi keutuhan penulisan. Walaupun esai adalah tulisan yang tidak utuh, namun harus memiliki kesatuan, dan memenuhi syarat-syarat penulisan, mulai dari pendahuluan, pengembangan sampai ke pengakhiran. Di dalamnya terdapat koherensi dan kesimpulan yang logis. Penulis harus mengemukakan argumennya dan tidak membiarkan pembaca tergantung di awang-awang.
·         Mempunyai nada pribadi atau bersifat personal, yang membedakan esai dengan jenis karya sastra yang lain adalah ciri personal. Ciri personal dalam penulisan esai adalah pengungkapan penulis sendiri tentang kediriannya, pandangannya, sikapnya, pikirannya, dan dugaannya kepada pembaca.

Struktur Sebuah Esai. Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:
·         Paragraf Pertama. Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut esainya. Esai ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan esai tersebut dalam beberapa sub topik.
·         Paragraf Kedua sampai kelima.Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung esai dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.
·         Paragraf Kelima (terakhir). Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali esai dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sinesai untuk meyakinkan pembaca
F. Langkah-langkah membuat Esai
1.     Tentukan topiknya terlebih dahulu , . Topik ini adalah gagasan pokok yang akan Anda kembangkan di tubuh tulisan Anda, contohnya topik tntang indonesia bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi Politik di Indonesia”.
·         Tentukan Tujuan. Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.
·         Tuliskan Minat Anda. Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.
·         Evaluasi Potensial Topik . Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.
d Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.
2.    Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda. Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.
·         Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
·         Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya
·         Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:
– Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
– Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca
– Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut
·         Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama.
3.    Tuliskan esai anda dalam kalimat yang singkat dan jelas. Suatu pernyataan esai mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan esai anda terdiri dari dua bagian:
– Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
– Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.
4.    Tuliskan tubuh esai anda: Mulailah dengan poin-poin penting kemudian buatlah beberapa sub topik dan kembangkan sub topik yang telah anda buat
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih
. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh esai anda. Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:
·         Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama”.
·         Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.
·         Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi.
·         Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf. Setelah menuliskan tubuh esai, anda hanya tinggal menuliskan dua paragraf: pendahuluan dan kesimpulan.
5.    Buatlah paragraf pertama (pendahuluan)
·         Mulailah dengan menarik perhatian pembaca.
– Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.
– Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.
– Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.
·         Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa pembaca pada pernyataan esai anda.
·         Tutup paragraf anda dengan pernyataan esai anda
6.    Tuliskan kesimpulan
Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca
. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh esai di atas) yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup esai anda.
7.    Berikan sentuhan terakhir
·         Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan paragraf terkuat pada urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun, urutan tersebut harus masuk akal. Jika naskah anda menjelaskan suatu proses, anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.
·         Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya
·         Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.
·         Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?
·         Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat sebelumnya.
·         Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda.


Bagaimana Memunculkan Opini yang Menarik?
Secara bebas opini bisa diartikan sebagai pandangan seseorang atau sekelompok orang terhadap satu masalah. Ia bisa juga sebuah praduga atau prasangka. Tapi tak setiap opini menarik untuk diangkat dalam esai. Nah, Anda bisa menguji apakah opini Anda menarik atau tidak dengan beberapa pertanyaan ini.
·         Apakah opini Anda tak didasarkan pada keyakinan yang mutlak atau pengetahun valid yang diterima banyak orang, tapi pada sesuatu yang “tampaknya” benar dan berbeda? Kecelakan Adam Air di laut Sulawesi yang menewaskan puluhan orang beberapa tahun lalu, tentu bukan opini, melainkan fakta yang diterima sebagai kebenaran umum. Tapi,  kecelakaan itu terjadi lantaran persaingan usaha para maskapai penerbangan murah adalah opini yang menarik dan menggugah. 
·         Apakah opini Anda memiliki nilai pertentangan dengan pandangan umum? Di tengah opini yang menganggap kecelakaan tersebut sekadar musibah, tentu saja opini bahwa persaingan usaha salah satu penyebabnya adalah opini yang berbeda atau bertentangan dengan pandangan umum.
·         Apakah opini Anda memiliki argumen-argumen kuat? Jika Anda berhasil menunjukan argumen dan bukti awal betapa persaingan usaha penerbangan murah membuat banyak maskapai harus “irit” di biaya perawatan dan melanggar standar penerbangan yang ditetapkan, opini itu bisa dikatakan memiliki argumen kuat. Untuk meyakinkan, Anda bisa saja membandingkannya dengan layanan dan operasional maskapai luar negeri yang profesional menjalankan bisnis dan memperhatikan keselamatan penumpang.
·         Apakah opini Anda dapat meyakinkan orang lain, dan tidak selalu membuktikan kebenaran sesuatu. Dengan argumen dan opini yang unik dan menggugah, jelas opini Anda bisa meyakinkan orang lain.
Jika pertanyaan di atas itu bisa Anda jawab itu berarti Anda boleh lega, Anda telah memiliki opini yang menarik untuk ditulis dalam esai.

Menulis Esai
Sebelum menulis Anda perlu mempersiapkan beberapa hal. Pertama, buatlah topik lalu tulis dalam satu, atau paling banyak dua kalimat. Kedua, tentukan siapa pembaca esai Anda. Ketiga, pikirkan bagaimana Anda mengembangkan argumen. Apakah dengan membuat perbandingan, mengkritik atau menjelaskan. Keempat, gunakan urutan logika yang benar dan kokoh. Rumuskanlah pikiran-pikiran utama untuk mendukung gagasan pokok Anda. Sangat baik, jika Anda memikirkan evidensi-evidensi atau fakta-fakta penguat. 
Sekarang, mulailah menulis paragraf pertama. Ini pengantar bagi pembaca masuk ke tubuh dan isi tulisan Anda. Penulis yang baik adalah penulis yang mampu mengikat pembaca pada pandangan pertama. Jadi buatlah kalimat pengantar yang membuat pembaca tetap bertahan hingga akhir tulisan Anda. Misalnya dengan cerita ringan atau lukisan singkat. Di sini Anda juga mesti memperkenalkan topik tulisan termasuk pandangan awal Anda. Tulisan esai biasanya menggunakan tiga model ini: model P-D-K (Pendirian-Dukungan-Kesimpulan); model P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian); model Inversi (model yang menempatkan gagasan pokok karangan di bagian akhir).

Sekarang saatnya Anda bergelut membangun isi atau tubuh tulisan. Bangun alur pada setiap paragraf. Pastikan setiap paragraf itu memiliki kalimat-kalimat pokok yang memperkuat gagasan pokok sekaligus berkesesuaian dengan seluruh tulisan Anda. Jalinlah paragraf-paragraf itu dengan kalimat transisi, klausa, atau kata penghubung. Untuk memperkuat, buatlah evidensi-evidensi yang relevan. Agar tulisan Anda tak terkesan monoton, polanya bisa dibuat dengan kutipan langsung. Di bagian ini jangan terburu-buru meringkas isi tulisan Anda. Tunggu hingga paragraf kesimpulan.

Karena umumnya esai tak begitu panjang, maka pastikan Anda menggunakan kata atau kalimat yang hemat dan efektif. Misalnya menghemat kata “agar supaya” dengan “agar” atau “supaya”; “akan tetapi” dengan “tapi”; “apabila” dengan “bila”. Anda juga bisa menggunakan kata yang punya sinonim lebih pendek. Misal, “makin” dengan “kian”, “sangat” dengan “amat”, “sekarang” dengan “kini”. Berikut ini contoh kalimat yang bisa dihemat. Adalah sebuah kenyataan, bahwa negeri ini belakangan tak henti-henti didera bencana (Sebuah kenyataan, negeri ini …)

Terakhir, kesimpulan. Sekarang, coba baca lagi pengaran dan isi tulisan Anda. Ringkas, lalu simpulkan argumentasi Anda. Pastikan Argumentasi tersebut merefleksikan pentingnya argumen dan bukti-bukti pada isi tulisan Anda dan runut secara logika. Setelah itu barulah Anda melakukan editing untuk mengetahui beberapa kesalahan.

Jenis Tulisan Esai
Ada beberapa jenis tulisan esai: narasi, deskripsi, eksposisi, dan persuasi. Esai narasi biasanya menggambarkan ide dengan cara bertutur. Mengisahkan peristiwa bagian per bagian. Deskripsi, esai yang biasanya bertujuan menciptakan kesan tentang seseorang, tempat, atau benda; membawa pembaca pada visualisasi dari sebuah subyek secara detil. Eksposisi, berusaha menjelaskan atau menunjukkan dengan hubungan sebab-akibat, menjelaskan dengan contoh, membagi dan mengklasifikasikan, atau mendefinisikan. Terakhir persuasi, esai yang berusaha membujuk atau mendorong seseorang untuk setuju atau tidak setuju pada satu pandangan tertentu.



MENULIS PRINSIP - PRINSIP KRITIK & ESAI
·         Ciri - ciri Kritik Sastra & Esai :
   - Data atau
Fakta
·         Pengertian Kritik Sastra & Esai:
   - Kritik Sastra adalah analisis terhadap suatu karya untuk mengamati atau menilai baik buruknya  suatu karya secara objektif.
   - Esai adalah karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya.
·         Ciri - ciri Kritik Sastra
   - Bersifat Objektif
   - Bertujuan untuk membangun
   - Menjadi bahan acuan untuk meningkatkan kreativitas pencipta karya tersebut.
·         Ciri - ciri Esai
   - Dikembangkan berdasarkan pandangan pribadi penulis esai.
   - Membantu pembaca untuk memahami suatu karya atau masalah.
·          Prinsip penulisan kritik sastra :
1. wajib membaca karya
2. Alat analisis
3. Alasan atau argumentasi
4. Niat untuk membangun
5. Mengungkapkan nilai - nilai (+)
·         Prinsip penulisan Kritik & Esai :
1. Tema
2. Mengumpulkan Referensi
3. Mengidentifikasi unsur yg mendukung dan kontra
4. Memilih Unsur - unsur yg dapat mendukung tema
5. Mengirimkan ke media massa cetak
·         Cara menyampaikan Kritik Sastra
Kritik Sastra:
* Tulisan:
1.Pendahuluan
2. Isi
3. Penutup

* Lisan : jika lisan di ucapkan dengan baik dan benar
·         Ciri - Ciri Esai:
1. Harus ada ide-ide penulisnya
2. Didukung oleh data
3. Luas
4. Pendekatan Ilmiah
·         Prinsip Penulisan Esai :
1. Penulis memilih topik
2. Didukung data ilmiah
3. Argumen yg tepat.
          Menikmati karya sastra merupakan suatu kegiatan memberikan apresiasi terhadap karya tulis format sastra sebagai karya mulia tentang preferensi hakikat hidup dan kehidupan manusia. Kebiasaan menikmati karya sastra memberikan nilai lebih dalam berbagai wacana, misalnya sosial, religi, kamanusiaan, heroisme, moral, filosofis.
           Sikap apresiasi biasanya berkembang menjadi lebih baik manakala dibarengi dengan semakin bertambahnya referensi khazanah sastra sesorang. Hal ini seirama dengan kebutuhan batiniah yang senantiasa memperkaya wacana humanistik dan moral-filosofi- serta hakikat keilahian. Bersama dengan itu tentulah asumsi, persepsi, dan konsepsi orang yang melakukan hal ini akan semakin mapan dan terbentuk paradigma tertentu, tak luput dari kebiasaan berpemikiran terbuka.
          Manakala kita mempunyai kebiasaan membaca karya sastra yang selalu akan berkembang ke arah lebih baik tentulah semakin memberikan kita kematangan apresiasi seirama dengan referensi bidang ini yang lama kelamaan akan membentuk klasifikasi dan kualitas suatu karya sastra. Bersamaan dengan itu apabila kita sudah mampu memberikan apresiasi yang mengarah ke penentuan kriteria, mulailah kita mampu memberikan kritik terhadap karya tersebut.
          Dalam ilmu sastra kritik merupakan bagian yang dipelajari secara fokus demi membuat analisis dan mengemukakan hasil analisis tersebut. Analisis yang dilakukan terhadap karya sastra yang dimaksud tentu saja dimensinya bertumpu pada hakikat karya sastra, bisa aspek intrinsik, ekstrinsik, ataupun dimensi lain yang amat ditentukan oleh sudut pandang penyusun kritik. Kritik sastra Indonesi tentu saja tak lepas dari sang pelopornya, H.b. Jassin yang diberi gelar “Paus Sastra Indonesia”. Karya beliau dapat dilihat dalam Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan Esai, Analisa Cerpen, dan Tifa Penyair dan Daerahnya.
          Kritik sastra merupakan hasil pengamatan sang kritikus terhadap keunggulan dan kelemahan suatu karya sastra, terutama dari hakikat nilai sastranya. Tentu saja di dalamnya terdapat analisis keunggulan, kelemahan-kekurangan, kebenaran, serta kesalahan yang terdapat dalam karya sastra itu. Yakob Sumardjo (1986: 21) mengatakan bahwa kritik sastra mempunyai tujuan mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan ke tataran lebih baik-tertinggi, di sisi lain bermakna memberikan apresiasi terhadap karya sastra itu secara lebih baik.
ü  Karakteristik kitik sastra yaitu:
1.     bertujuan menilai karya sastra
2.    penilaian berdasarkan kriteria tertentu; mengungkapkan kelebihan dan kekurangan karya sastra tersebut; dan
3.    ada kesimpulan penilaian kritikus terhadap karya sastra yang dikritik.
ü  Di sisi lain kritik sastra juga mempunyai ciri:
1.     penulis terbuka mengemukakan sudut pandang penilaiannya;
2.    penulis bersikap objektif dalam memberikan penilaian;
3.    penulis menyertakan bukti-bukti tekstual dari yang dikritik.

Tulisan esai tentu mempunyai sisi berbeda dengan kritik. Esai merupakan salah satu bentuk karangan seseorang yang dimuat dalam media, hampir sama dengan artikel, namun justru lebih singkat. Selain itu, esai mengungkapkan berbagai persoalan, bisa berbentuk formal atau nonformal. Bentuk formal mengikuti kaidah kebahasaan yang berlaku, sedangkan format nonformal dikemas dalam bahasa gaul percakapan. Kata sapaan saya yang digunakan oleh penulis seringkali memperakrabpenulis dengan pembacanya, sedangkan esai formal cenderung bersifat ragam resmi.
        Dimensi yang menjadi titik pokok esai adalah pandangan atau pendapat pribadi penulis mengenai masalah kesastraan. Tulisan esai mempunyai karakter antara lain di dalamnya terdapat ide-ide-konsep penulis, gagasan tersebut didukung oleh data, penulisan esai mengemukakan masalah yang lebih luas, dan menggunakan pola akademis ilmiah.
ü  Secara sederhana penulisan esai mengenal beberapa prinsip, yaitu:
1.     penulis dapat memilih topik yang akan dibahas sesuai dengan tujuan dan sudut pandang yang dipilihnya;
2.    pengungkapan gagasan-pendapat penulis tersebut tidak like or dislike, namun dikemas dalam formulasi ilmiah yang diperkuat dengan data-data; dan
3.    logika penulis ditunjang oleh argumentasi dan dasar penalaran yang masuk akal.