A. Pengertian Kritik dan Esai Sastra
kritik
adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan
baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan esai adalah
karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut
pandang pribadi penulisnya
Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai informal mempergunakan bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan “saya” dan seolah-olah ia berbicara langsung dengan pembacanya. Adapun esai yang formal pendekatannya serius. Pengarang mempergunakan semua persyaratan penulisan.
Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.
Apa yang membedakan esai dan bukan esai? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan dengan merujuk pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada, tetapi pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering kali masih tidak lengkap dan kadang bertolak belakang sehingga masih mengandung kekurangan juga. Misal mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang, dan dapat dibaca sekali duduk; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian (sastra, budaya, filsafat, ilmu); dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur.
Dari pembagian model penalaran ini, esai cenderung lebih mengamalkan penalaran lateral karena esai cenderung tidak analitis dan acak, melainkan dapat melompat-lompat dan provokatif. Sebab, esai menurut makna asal katanya adalah sebuah upaya atau percobaan yang tidak harus menjawab suatu persoalan secara final, tetapi lebih ingin merangsang. Menurut Francis Bacon, esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.
Pengarang esai disebut esais. Esai sebagai satu bentuk karangan dapat bersifat informal dan formal. Esai informal mempergunakan bahasa percakapan, dengan bentuk sapaan “saya” dan seolah-olah ia berbicara langsung dengan pembacanya. Adapun esai yang formal pendekatannya serius. Pengarang mempergunakan semua persyaratan penulisan.
Esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subyek tertentu. Sebuah esai dasar dibagi menjadi tiga bagian: pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek; tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek; dan terakhir adalah konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek.
Apa yang membedakan esai dan bukan esai? Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan dengan merujuk pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada, tetapi pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan yang telah ada sering kali masih tidak lengkap dan kadang bertolak belakang sehingga masih mengandung kekurangan juga. Misal mengenai ukuran esai, ada yang menyatakan bebas, sedang, dan dapat dibaca sekali duduk; mengenai isi esai, ada yang menyatakan berupa analisis, penafsiran dan uraian (sastra, budaya, filsafat, ilmu); dan demikian juga mengenai gaya dan metode esai ada yang menyatakan bebas dan ada yang menyatakan teratur.
Dari pembagian model penalaran ini, esai cenderung lebih mengamalkan penalaran lateral karena esai cenderung tidak analitis dan acak, melainkan dapat melompat-lompat dan provokatif. Sebab, esai menurut makna asal katanya adalah sebuah upaya atau percobaan yang tidak harus menjawab suatu persoalan secara final, tetapi lebih ingin merangsang. Menurut Francis Bacon, esai lebih sebagai butir garam pembangkit selera ketimbang sebuah makanan yang mengenyangkan.
·
prinsip dalam
menyusun kritik dan esai, di antaranya sebagai berikut
·
Pokok
persoalan yang dibahas harus layak untuk diulas dan hasil ulasannya harus
memberikan keterangan atau memperlihatkan sebab musabab yang berkaitan dengan
suatu peristiwa yang nyata. Jadi yang
terpenting bukan apa yang diulas, tetapi bagaimana cara penulis memberikan
ulasannya.
·
Pendekatan
yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan pendekatan faktual
atau imajinatif? Pendekatan faktual maksudnya mendekati pokok persoalan
berdasarkan fakta dan datanya sebagaimana diserap pancaindra. Pendekatan imajinatif
maksudnya mendekati pokok persoalan berdasarkan apa yang dibayangkan atau
diangankan.
·
Ulasan
yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang nyata dan
objektif. Penulis tidak bleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya. Pernyataan yang
diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak
disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
·
Pernyataan
yang diungkapkan harus jelas, jangan samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak
disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
·
beberapa fungsi kritik sastra
adalah sebagai berikut.
·
Membina
dan mengembangkan sastra. Melalui kritik sastra, kritikus berusaha menunjukkan
struktur sebuah karya sastra, memberikan penilaian, menunjukkan kekuatan dan
kelemahannya, serta memberikan alternatif untuk pengembangan karya sastra
tersebut.
·
Pembinaan
apresiasi sastra. Para kritikus berusaha membantu para peminat karya sastra memahami sebuah
karya sastra. Kritikus berusaha mengungkap daerah-daerah yang lemah yang
terdapat dalam karya sastra. Analisis struktur sastra, kmentar dan
interprestasi, menjelaskan unsur-unsurnya,serta menunjukan unsur-unsur yang
tersirat dan tersurat, akan dapat menuingkatkan apresiasi sastra.
·
Menunjang
dan mengembangkan ilmu sastra. Kritik sastra merupakan wadah analisis karya sastra,
analisis struktur cerita, gaya bahasa, dan teknik penceritaan. Hal ini
merupakan sumbangan pula untuk para ahli sastra dalam mengembangkan teri
sastra. Para pengarang pun dapat belajar melalui kritik sastra dalam memperluas
pandangannya, sehingga ciptaannya lebih berkembang. Untuk membuat kritik dan
esai terhadap karya sastra, penulis dapat menggunakan dua pendekatan yakni
dengan pendekatan deduktif dan pendekatan induktif.
C. Tipe-tipe Esai
Ada enam tipe esai, yaitu:
Ada enam tipe esai, yaitu:
·
Esai
deskriptif. Esai jenis ini dapat meluliskan subjek atau objek apa saja yang dapat
menarik perhatian pengarang. Ia bisa mendeskripsikan sebuah rumah, sepatu, tempat
rekreasi dan sebagainya.
·
Esai
tajuk.
Esai jenis ini dapat dilihat dalam surat kabar dan majalah. Esai ini mempunyai
satu fungsi khusus, yaitu menggambarkan pandangan dan sikap surat kabar/majalah
tersebut terhadap satu topik dan isyu dalam masyarakat. Dengan Esai tajuk,
surat kabar tersebut membentuk opini pembaca. Tajuk surat kabar tidak perlu disertai
dengan nama penulis.
·
Esai
cukilan watak. Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari
kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. Lewat cukilan watak itu
pembaca dapat mengetahui sikap penulis terhadap tipe pribadi yang dibeberkan.
Disini penulis tidak menuliskan biografi. Ia hanya memilih bagian-bagian yang
utama dari kehidupan dan watak pribadi tersebut.
·
Esai
pribadi, hampir sama dengan esai cukilan watak. Akan tetapi . Esai ini
memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan
individual seseorang kepada para pembaca. i. Penulis akan menyatakan “Saya
adalah saya. Saya akan menceritakan kepada saudara hidup saya dan pandangan
saya tentang hidup”. Ia membuka tabir tentang dirinya sendiri.
·
Esai reflektif. Esai reflektif ditulis secara formal
dengan nada serius. Penulis mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan
hati-hati beberapa topik yang penting berhubungan dengan hidup, misalnya
kematian, politik, pendidikan, dan hakikat manusiawi. Esai ini ditujukan kepada
para cendekiawan.
·
Esai
kritik. Esai reflektif ditulis secara formal dengan nada serius. Penulis
mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati beberapa topik yang
penting berhubungan dengan hidup, misalnya kematian, politik, pendidikan, dan
hakikat manusiawiBerbentuk
prosa, artinya dalam bentuk komunikasi biasa, menghindarkan
penggunaan bahasa dan ungkapan figuratif.
·
Singkat, maksudnya dapat
dibaca dengan santai dalam waktu dua jam.
·
Memiliki
gaya pembeda. Seorang penulis esai yang baik akan membawa ciri dan
gaya yang khas, yang membedakan tulisannya dengan gaya penulis lain.
·
Selalu
tidak utuh, artinya penulis
memilih segi-segi yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak
ditulis. Penulis memilih aspek tertentu saja untuk disampaikan kepada para
pembaca.
·
Memenuhi
keutuhan penulisan. Walaupun esai adalah tulisan yang tidak utuh, namun
harus memiliki kesatuan, dan memenuhi syarat-syarat penulisan, mulai dari
pendahuluan, pengembangan sampai ke pengakhiran. Di dalamnya terdapat koherensi
dan kesimpulan yang logis. Penulis harus mengemukakan argumennya dan tidak
membiarkan pembaca tergantung di awang-awang.
·
Mempunyai
nada pribadi atau bersifat personal, yang membedakan esai dengan jenis karya sastra yang
lain adalah ciri personal. Ciri personal dalam penulisan esai adalah
pengungkapan penulis sendiri tentang kediriannya, pandangannya, sikapnya,
pikirannya, dan dugaannya kepada pembaca.
Struktur Sebuah Esai. Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima
paragraf:
·
Paragraf
Pertama. Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan,
berikut esainya. Esai ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan
jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan
pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan esai tersebut dalam beberapa
sub topik.
·
Paragraf
Kedua sampai kelima.Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai
yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung esai dan argumen-argumennya
dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan
masing-masing sub topik.
·
Paragraf
Kelima (terakhir). Paragraf kelima
merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali esai dan sub topik yang telah
dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sinesai untuk
meyakinkan pembaca
F. Langkah-langkah membuat Esai
1. Tentukan topiknya terlebih dahulu , . Topik ini adalah
gagasan pokok yang akan Anda kembangkan di tubuh tulisan Anda, contohnya topik
tntang indonesia bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat
mempersempit topik ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi
Politik di Indonesia”.
·
Tentukan
Tujuan.
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk
meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana
melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat
atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.
·
Tuliskan
Minat Anda. Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan
beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis,
akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda
minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar
anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang
menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut,
tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.
·
Evaluasi
Potensial Topik . Jika telah ada bebearpa topik yang pantas,
pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus
mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka
topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa
banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.
d Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.
d Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.
2. Buatlah outline atau garis besar ide-ide
anda.
Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda
dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.
·
Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
·
Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri
halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya
·
Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda
maksud:
– Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
– Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca
– Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut
– Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
– Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca
– Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut
·
Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C
menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang
mendukung ide utama.
3. Tuliskan esai anda dalam kalimat yang
singkat dan jelas. Suatu pernyataan esai mencerminkan isi esai dan poin
penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik
dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda
buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan esai anda
terdiri dari dua bagian:
– Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
– Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.
– Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
– Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.
4. Tuliskan tubuh esai anda: Mulailah dengan
poin-poin penting kemudian buatlah beberapa sub topik dan kembangkan sub topik
yang telah anda buat
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh esai anda. Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh esai anda. Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:
·
Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk
kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat
menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan
waktu yang lama”.
·
Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide
tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.
·
Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin
tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi.
·
Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan
pada masing-masing paragraf. Setelah menuliskan tubuh esai, anda hanya tinggal
menuliskan dua paragraf: pendahuluan dan kesimpulan.
5.
Buatlah paragraf
pertama (pendahuluan)
·
Mulailah dengan menarik perhatian pembaca.
– Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.
– Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.
– Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.
– Memulai dengan suatu informasi nyata dan terpercaya. Informasi ini tidak perlu benar-benar baru untuk pembaca anda, namun bisa menjadi ilustrasi untuk poin yang anda buat.
– Memulai dengan suatu anekdot, yaitu suatu cerita yang menggambarkan poin yang anda maksud. Berhati-hatilah dalam membuat anekdot. Meski anekdot ini efektif untuk membangun ketertarikan pembaca, anda harus menggunakannya dengan tepat dan hati-hati.
– Menggunakan dialog dalam dua atau tiga kalimat antara beberapa pembicara untuk menyampaikan poin anda.
·
Tambahkan satu atau dua kalimat yang akan membawa
pembaca pada pernyataan esai anda.
·
Tutup paragraf anda dengan pernyataan esai anda
6. Tuliskan kesimpulan
Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh esai di atas) yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup esai anda.
Kesimpulan merupakan rangkuman dari poin-poin yang telah anda kemukakan dan memberikan perspektif akhir anda kepada pembaca. Tuliskan dalam tiga atau empat kalimat (namun jangan menulis ulang sama persis seperti dalam tubuh esai di atas) yang menggambarkan pendapat dan perasaan anda tentang topik yang dibahas. Anda dapat menggunakan anekdot untuk menutup esai anda.
7.
Berikan
sentuhan terakhir
·
Teliti urutan paragraf Mana yang paling kuat? Letakkan
paragraf terkuat pada urutan pertama, dan paragraf terlemah di tengah. Namun,
urutan tersebut harus masuk akal. Jika naskah anda menjelaskan suatu proses,
anda harus bertahan pada urutan yang anda buat.
·
Teliti format penulisan. Telitilah format penulisan
seperti margin, spasi, nama, tanggal, dan sebagainya
·
Teliti tulisan. Anda dapat merevisi hasil tulisan
anda, memperkuat poin yang lemah. Baca dan baca kembali naskah anda.
·
Apakah masuk akal? Tinggalkan dulu naskah anda
beberapa jam, kemudian baca kembali. Apakah masih masuk akal?
·
Apakah kalimat satu dengan yang lain mengalir dengan
halus dan lancar? Bila tidak, tambahkan bebearpa kata dan frase untuk
menghubungkannya. Atau tambahkan satu kalimat yang berkaitan dengan kalimat
sebelumnya.
·
Teliti kembali penulisan dan tata bahasa anda.
Bagaimana Memunculkan Opini yang Menarik?
Secara bebas opini bisa diartikan sebagai pandangan seseorang atau
sekelompok orang terhadap satu masalah. Ia bisa juga sebuah praduga atau
prasangka. Tapi tak setiap opini menarik untuk diangkat dalam esai. Nah, Anda
bisa menguji apakah opini Anda menarik atau tidak dengan beberapa pertanyaan
ini.
·
Apakah opini Anda tak didasarkan pada keyakinan yang
mutlak atau pengetahun valid yang diterima banyak orang, tapi pada sesuatu yang
“tampaknya” benar dan berbeda? Kecelakan Adam Air di laut Sulawesi yang
menewaskan puluhan orang beberapa tahun lalu, tentu bukan opini, melainkan
fakta yang diterima sebagai kebenaran umum. Tapi, kecelakaan itu terjadi
lantaran persaingan usaha para maskapai penerbangan murah adalah opini yang
menarik dan menggugah.
·
Apakah opini Anda memiliki nilai pertentangan dengan
pandangan umum? Di tengah opini yang menganggap kecelakaan tersebut sekadar
musibah, tentu saja opini bahwa persaingan usaha salah satu penyebabnya adalah
opini yang berbeda atau bertentangan dengan pandangan umum.
·
Apakah opini Anda memiliki argumen-argumen kuat? Jika
Anda berhasil menunjukan argumen dan bukti awal betapa persaingan usaha
penerbangan murah membuat banyak maskapai harus “irit” di biaya perawatan dan
melanggar standar penerbangan yang ditetapkan, opini itu bisa dikatakan
memiliki argumen kuat. Untuk meyakinkan, Anda bisa saja membandingkannya dengan
layanan dan operasional maskapai luar negeri yang profesional menjalankan
bisnis dan memperhatikan keselamatan penumpang.
·
Apakah opini Anda dapat meyakinkan orang lain, dan
tidak selalu membuktikan kebenaran sesuatu. Dengan argumen dan opini yang unik
dan menggugah, jelas opini Anda bisa meyakinkan orang lain.
Jika pertanyaan di atas itu bisa Anda jawab itu berarti Anda boleh lega,
Anda telah memiliki opini yang menarik untuk ditulis dalam esai.
Menulis Esai
Sebelum menulis Anda perlu mempersiapkan beberapa hal. Pertama,
buatlah topik lalu tulis dalam satu, atau paling banyak dua kalimat. Kedua,
tentukan siapa pembaca esai Anda. Ketiga, pikirkan bagaimana Anda mengembangkan
argumen. Apakah dengan membuat perbandingan, mengkritik atau menjelaskan. Keempat,
gunakan urutan logika yang benar dan kokoh. Rumuskanlah pikiran-pikiran utama
untuk mendukung gagasan pokok Anda. Sangat baik, jika Anda memikirkan
evidensi-evidensi atau fakta-fakta penguat.
Sekarang, mulailah menulis paragraf pertama. Ini pengantar bagi pembaca
masuk ke tubuh dan isi tulisan Anda. Penulis yang baik adalah penulis yang
mampu mengikat pembaca pada pandangan pertama. Jadi buatlah kalimat pengantar
yang membuat pembaca tetap bertahan hingga akhir tulisan Anda. Misalnya dengan
cerita ringan atau lukisan singkat. Di sini Anda juga mesti memperkenalkan
topik tulisan termasuk pandangan awal Anda. Tulisan esai biasanya menggunakan tiga model ini: model P-D-K
(Pendirian-Dukungan-Kesimpulan); model P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian);
model Inversi (model yang menempatkan gagasan pokok karangan di bagian akhir).
Sekarang saatnya Anda bergelut membangun isi atau tubuh tulisan. Bangun
alur pada setiap paragraf. Pastikan setiap paragraf itu memiliki
kalimat-kalimat pokok yang memperkuat gagasan pokok sekaligus berkesesuaian
dengan seluruh tulisan Anda. Jalinlah paragraf-paragraf itu dengan kalimat
transisi, klausa, atau kata penghubung. Untuk memperkuat, buatlah
evidensi-evidensi yang relevan. Agar tulisan Anda tak terkesan monoton, polanya
bisa dibuat dengan kutipan langsung. Di bagian ini jangan terburu-buru
meringkas isi tulisan Anda. Tunggu hingga paragraf kesimpulan.
Karena
umumnya esai tak begitu panjang, maka pastikan Anda menggunakan kata atau
kalimat yang hemat dan efektif. Misalnya menghemat kata “agar supaya” dengan “agar” atau
“supaya”; “akan tetapi” dengan “tapi”; “apabila” dengan “bila”. Anda juga bisa
menggunakan kata yang punya sinonim lebih pendek. Misal, “makin” dengan “kian”,
“sangat” dengan “amat”, “sekarang” dengan “kini”. Berikut ini contoh kalimat
yang bisa dihemat. Adalah sebuah kenyataan, bahwa negeri ini belakangan tak
henti-henti didera bencana (Sebuah kenyataan, negeri ini …)
Terakhir, kesimpulan. Sekarang, coba baca lagi pengaran dan isi tulisan
Anda. Ringkas, lalu simpulkan argumentasi Anda. Pastikan Argumentasi tersebut
merefleksikan pentingnya argumen dan bukti-bukti pada isi tulisan Anda dan
runut secara logika. Setelah itu barulah Anda melakukan editing untuk
mengetahui beberapa kesalahan.
Jenis Tulisan Esai
Ada
beberapa jenis tulisan esai: narasi, deskripsi, eksposisi, dan persuasi. Esai
narasi biasanya menggambarkan ide dengan cara bertutur. Mengisahkan peristiwa
bagian per bagian. Deskripsi, esai yang biasanya bertujuan menciptakan kesan
tentang seseorang, tempat, atau benda; membawa pembaca pada visualisasi dari
sebuah subyek secara detil. Eksposisi, berusaha menjelaskan atau menunjukkan
dengan hubungan sebab-akibat, menjelaskan dengan contoh, membagi dan
mengklasifikasikan, atau mendefinisikan. Terakhir persuasi, esai yang berusaha
membujuk atau mendorong seseorang untuk setuju atau tidak setuju pada satu
pandangan tertentu.
MENULIS PRINSIP
- PRINSIP KRITIK & ESAI
·
Pengertian
Kritik Sastra & Esai:
- Kritik Sastra adalah analisis terhadap suatu karya untuk mengamati atau menilai baik buruknya suatu karya secara objektif.
- Esai adalah karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya.
- Kritik Sastra adalah analisis terhadap suatu karya untuk mengamati atau menilai baik buruknya suatu karya secara objektif.
- Esai adalah karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya.
·
Ciri -
ciri Kritik Sastra
- Bersifat Objektif
- Bertujuan untuk membangun
- Menjadi bahan acuan untuk meningkatkan kreativitas pencipta karya tersebut.
- Bersifat Objektif
- Bertujuan untuk membangun
- Menjadi bahan acuan untuk meningkatkan kreativitas pencipta karya tersebut.
·
Ciri -
ciri Esai
- Dikembangkan berdasarkan pandangan pribadi penulis esai.
- Membantu pembaca untuk memahami suatu karya atau masalah.
- Dikembangkan berdasarkan pandangan pribadi penulis esai.
- Membantu pembaca untuk memahami suatu karya atau masalah.
·
Prinsip penulisan kritik sastra :
1. wajib membaca karya
2. Alat analisis
3. Alasan atau argumentasi
4. Niat untuk membangun
5. Mengungkapkan nilai - nilai (+)
1. wajib membaca karya
2. Alat analisis
3. Alasan atau argumentasi
4. Niat untuk membangun
5. Mengungkapkan nilai - nilai (+)
·
Prinsip
penulisan Kritik & Esai :
1. Tema
2. Mengumpulkan Referensi
3. Mengidentifikasi unsur yg mendukung dan kontra
4. Memilih Unsur - unsur yg dapat mendukung tema
5. Mengirimkan ke media massa cetak
1. Tema
2. Mengumpulkan Referensi
3. Mengidentifikasi unsur yg mendukung dan kontra
4. Memilih Unsur - unsur yg dapat mendukung tema
5. Mengirimkan ke media massa cetak
·
Cara
menyampaikan Kritik Sastra
Kritik Sastra:
* Tulisan:
1.Pendahuluan
2. Isi
3. Penutup
* Lisan : jika lisan di ucapkan dengan baik dan benar
Kritik Sastra:
* Tulisan:
1.Pendahuluan
2. Isi
3. Penutup
* Lisan : jika lisan di ucapkan dengan baik dan benar
·
Ciri -
Ciri Esai:
1. Harus ada ide-ide penulisnya
2. Didukung oleh data
3. Luas
4. Pendekatan Ilmiah
1. Harus ada ide-ide penulisnya
2. Didukung oleh data
3. Luas
4. Pendekatan Ilmiah
·
Prinsip
Penulisan Esai :
1. Penulis memilih topik
2. Didukung data ilmiah
3. Argumen yg tepat.
1. Penulis memilih topik
2. Didukung data ilmiah
3. Argumen yg tepat.
Menikmati karya
sastra merupakan suatu kegiatan memberikan apresiasi terhadap karya tulis
format sastra sebagai karya mulia tentang preferensi hakikat hidup dan
kehidupan manusia. Kebiasaan menikmati karya sastra memberikan nilai lebih
dalam berbagai wacana, misalnya sosial, religi, kamanusiaan, heroisme, moral,
filosofis.
Sikap
apresiasi biasanya berkembang menjadi lebih baik manakala dibarengi dengan
semakin bertambahnya referensi khazanah sastra sesorang. Hal ini seirama dengan
kebutuhan batiniah yang senantiasa memperkaya wacana humanistik dan
moral-filosofi- serta hakikat keilahian. Bersama dengan itu tentulah asumsi,
persepsi, dan konsepsi orang yang melakukan hal ini akan semakin mapan dan
terbentuk paradigma tertentu, tak luput dari kebiasaan berpemikiran terbuka.
Manakala kita
mempunyai kebiasaan membaca karya sastra yang selalu akan berkembang ke arah
lebih baik tentulah semakin memberikan kita kematangan apresiasi seirama dengan
referensi bidang ini yang lama kelamaan akan membentuk klasifikasi dan kualitas
suatu karya sastra. Bersamaan dengan itu apabila kita sudah mampu memberikan
apresiasi yang mengarah ke penentuan kriteria, mulailah kita mampu memberikan
kritik terhadap karya tersebut.
Dalam ilmu sastra
kritik merupakan bagian yang dipelajari secara fokus demi membuat analisis dan
mengemukakan hasil analisis tersebut. Analisis yang dilakukan terhadap karya
sastra yang dimaksud tentu saja dimensinya bertumpu pada hakikat karya sastra,
bisa aspek intrinsik, ekstrinsik, ataupun dimensi lain yang amat ditentukan
oleh sudut pandang penyusun kritik. Kritik sastra Indonesi tentu saja tak lepas
dari sang pelopornya, H.b. Jassin yang diberi gelar “Paus Sastra Indonesia”.
Karya beliau dapat dilihat dalam Kesusastraan Indonesia dalam Kritik dan
Esai, Analisa Cerpen, dan Tifa Penyair dan Daerahnya.
Kritik sastra
merupakan hasil pengamatan sang kritikus terhadap keunggulan dan kelemahan
suatu karya sastra, terutama dari hakikat nilai sastranya. Tentu saja di
dalamnya terdapat analisis keunggulan, kelemahan-kekurangan, kebenaran, serta
kesalahan yang terdapat dalam karya sastra itu. Yakob Sumardjo (1986: 21)
mengatakan bahwa kritik sastra mempunyai tujuan mendorong sastrawan untuk mencapai
penciptaan ke tataran lebih baik-tertinggi, di sisi lain bermakna memberikan
apresiasi terhadap karya sastra itu secara lebih baik.
ü
Karakteristik kitik sastra yaitu:
1. bertujuan menilai
karya sastra
2. penilaian
berdasarkan kriteria tertentu; mengungkapkan kelebihan dan kekurangan karya
sastra tersebut; dan
3. ada kesimpulan
penilaian kritikus terhadap karya sastra yang dikritik.
ü
Di sisi lain kritik sastra juga mempunyai ciri:
1. penulis terbuka
mengemukakan sudut pandang penilaiannya;
2. penulis bersikap
objektif dalam memberikan penilaian;
3. penulis menyertakan
bukti-bukti tekstual dari yang dikritik.
Tulisan esai tentu mempunyai sisi berbeda dengan
kritik. Esai merupakan salah satu bentuk karangan seseorang yang dimuat dalam
media, hampir sama dengan artikel, namun justru lebih singkat. Selain itu, esai
mengungkapkan berbagai persoalan, bisa berbentuk formal atau nonformal. Bentuk
formal mengikuti kaidah kebahasaan yang berlaku, sedangkan format nonformal
dikemas dalam bahasa gaul percakapan. Kata sapaan saya yang digunakan
oleh penulis seringkali memperakrabpenulis dengan pembacanya, sedangkan esai
formal cenderung bersifat ragam resmi.
Dimensi yang menjadi titik pokok
esai adalah pandangan atau pendapat pribadi penulis mengenai masalah
kesastraan. Tulisan esai mempunyai karakter antara lain di dalamnya terdapat
ide-ide-konsep penulis, gagasan tersebut didukung oleh data, penulisan esai
mengemukakan masalah yang lebih luas, dan menggunakan pola akademis ilmiah.
ü
Secara sederhana penulisan esai mengenal beberapa
prinsip, yaitu:
1. penulis dapat
memilih topik yang akan dibahas sesuai dengan tujuan dan sudut pandang yang
dipilihnya;
2. pengungkapan
gagasan-pendapat penulis tersebut tidak like or dislike, namun dikemas
dalam formulasi ilmiah yang diperkuat dengan data-data; dan
3. logika penulis
ditunjang oleh argumentasi dan dasar penalaran yang masuk akal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar